Penjelasan BPCB Trowulan Terkait Temuan Dugaan Situs Bangunan Kuno

Menindaklanjuti kabar temuan batu arca kepala kala dan struktur bangunan kuno bernuansa tata batu bata di sebuah ladang jagung milik warga di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar pada (1/9/2019) Wisma Pelestarian Lindungan Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Jawa Timur bergegas meninjau posisi penemuanArkeolog BPCB Trowulan Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho Mengungkapkan dari tinjauan sementara di kawasan posisi Joko Pangong Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar ini di beberapa bintik ditemukan indikasi yang diduga misalnya lindungan budaya.

“Kita mendata ada 7 tutul yang berwajah bentuk struktur bata dan juga satu penemuan arca kepala kala yang semua mengindikasikan bahwa di kedudukan ini adalah kompleks percandian yang cukup luas,” terangnya saat ditemui BLITARTIMES lalu observasi di tempat Joko Pangon

Menurutnya dari kompas Sebelumnya pada masa kolonial, Candi Gedog setelah dikunjungi oleh Gubernur-Letnan Hindia Belanda Thomas Staford Raffles.Kunjungan tertulis dimuat dalam karyanya yang diterbitkan pada tahun 1817 berjudul The History of Java.

Dari tulisan tertulis ketahuan bahwa musnah candi ini tinggal cukup utuh. Bangunan candi tersusun dari bata dan ornamen hiasnya diukir pada batu.Beberapa sisi lagi utuh namun pangkal pintu atau tangga sudah mulai terputus.

Klik : teks lho adalah

“Cuman mungkin karena dipersetujui petaka Gunung Kelud yang sempat meletus beberapa kali, selanjutnya candinya rubuh dan terkena timbunan material vulkanik,” sambungnya.

Ia Melebarkan dari produk observasi kali ini nantinya dapat ada beberapa kali survey penyelematan eskavasi di kawasan web ini bekerjasama dengan Biro Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar dan pula Kecamatan Sananwetan untuk ingat apakah sedang bisa diselamatkan yang ada di posisi ini.Indikasi sementara dari bikinan temuan struktur bangunan tua Termasuk jika diliat dari takaran dimensi batu bata era Majapahit.

Namun indikasi tercatat tinggal perlu dikaji ulang dan belum bisa dipastikan.”Dari tingkatan dimensi bata Galibnya kita temukan memiliki panjang 32-33 sentimeter dengan lebar 21-23 sentimeter dengan ketebalan 5-7 sentimeter itu masuk dalam topologi batu bata era Majapahit. Sementara itu seperti itu,” terangnya.

Dari kronologi beberapa bintik temuan web Tertera ditemukan arsip gabungan sela bata dan batu andesit yang membongkar adanya penggabungan arsitektural dari posisi temuan ini.Menurutnya dari titik-titik temuan tempat bangunan kedaluwarsa tersebut yakni kompleks percandian dengan perkiraan luas mendapatkan 100 meter persegi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *